dian ariyanto

Hey! We Are SAVANAPALA!

Tadi malam tepatnya Sabtu 27 Agustus 2016 saya berkesempatan untuk ngadem bareng lagi bersama teman – teman savanapala Ngrambe. Bagi yang belum tau apa itu savanapala, savanapala adalah sebuah komunitas/organisasi pecinta alam di Ngawi yang mulai kembali eksis sejak 18 juli 2015. 

“Sebagai wadah bagi para pecinta alam yang ada di sekitar Ngawi” kata Sun Aji Gumelar atau lebih akrab disapa Ajik oleh teman – temannya.

Saya sudah 2 kali ini ikut nimbrung bersama mereka, yang pertama adalah saat acara “Mari Berdiskusi Jilid 2” yang sukses menghadirkan puluhan pecinta alam di Ngawi. Bahagia itu saat dimana saya bisa ngopi & bercerita banyak hal bersama mereka yang sudah sejak lahir ceprot berpetualang kesana kemari mendaki gunung lewati lembah dengan berbagai pengalaman – pengalaman lucunya. Tak ayal, saya pun tak kuasa menolak tiap kali mendapat undangan absen di acara mereka seperti halnya acara camp semalam.

Camp Dadakan Jamus – 27 Agustus 2016 – 17:00 WIB

Cuaca mendung tebal dan saya masih belum mendapat kabar dari teman – teman tentang kelanjutan camp dadakan membahas rencana acara “Mari Berdiskusi Jilid 3” ini, bakda maghrib tepat saat mendapat kabar dari mas Mur (cafe oerip) bahwa beliaunya sudah merapat di lokasi tapi malah hujan deras mengguyur hingga bakda isya. Sempat ragu, lanjut gas atau memilih untuk mancal kemul dan tidur sampai pagi? Berhubung sudah kemecer pengen ngadem akhirnya nekat budal meskipun waktu sudah menunjukkan jam 20:35 WIB.

Sidebag motor disiapkan beserta kompor, panci, matras, dan kawan – kawannya. Gerimis mesra masih mengiringi perjalanan saya, tapi syukur alhamdulillah sampai di lokasi (utara parkiran jamus) cuaca sedikit membaik dan teman – teman savanapala terlihat sedang mengitari api unggun sambil gitaran menikmati suasana kekancan yang hangat. Sebelumnya saya sempat terperangah karena ternyata di tkp ini rauuuuwaaameee pol, jebulnya kelompok persami asal klaten beberapa kompi sudah mendirikan camp di tkp sedari sore lengkap dengan lampu jumbo dan jenset sebagai sumber listriknya.

Bakar Ikan

Suasana mencair saat sekantong plastik berisi ikan nila mulai dibakar, semua mulai sibuk memegangi miliknya masing – masing (ikan, bukan yang lain ya) lalu menyodorkannya ke atas bara api. Sembari menunggu, kamipun kembali mbanyol ngalor ngidul mbahas macam – macam, mulai dari kentut sampai ngorok seperti diesel dongfaeng kita bahas dengan blak – blakan. Tak ada yang menyakiti, tak ada yang tersakiti, memang seperti inilah cara kami berkawan. Piye? Kapan ngopi bareng sama savanapala? AWAS TUMAN!

Keasikan bercanda, terdengar suara lonceng gereja berbunyi sebanyak 12kali yang menandakan bahwa hari telah berganti, jam telah kembali ke titik nolnya. Kami pun memutuskan untuk beristirahat….

Tidak Kebagian Tenda!

Karena memang ndak bawa, saya pun akhirnya nunut molor di mobilnya Ajik. Ah, camping macam apa ini?? Batinku, tapi ini juga kesalahanku sendiri yang tidak membawa tenda dari awal dan akhirnya harus berbagi tempat dengan si Ajik hehehe… sory ya jik? Yo!

Mendengar Suara – Suara!

Saya tidak tau, apakah malam itu saya benar – benar tidur atau hanya setengah tidur, karena telinga saya rasanya masih bisa mendengarkan apa saja yg menghasilkan bunyi mirip dongfaeng dan perbincangan dari camp tetangga. Hingga terdengar lagi olehku suara lonceng gereja sebanyak 3kali, yang artinya jam sudah menunjukkan jam 03:00AM. Ndilalah, tidur di mobil bertiga lhakok kebelet nge-gas! Wah bahaya ini kalau meledak di dalem kabin yg tertutup ini bisa – bisa pingsan semua wkwkwk.. Sayapun memutuskan untuk keluar dan menguras gas – gas di perut agar tidak jadi kembung, sebatang kretek menemani kesendirian dibawah bintang – bintang pagi itu sampai adzan subuh.

Habis subuh, saya lanjut molor sebentar karena mata masih kerasa pedes meski sudah ditampar pakai air Jamus brrrr….

Paginya – 28 Agustus 2016 – 06:00Am

Kluntang – klunting ternyata beberapa teman sudah bangun dan menyiapkan kopi, hmmmm “aku yo seneng esuk – esuk ngopi ngonowi” bau kopi menarikku keluar dari jok belakang menuju ke gelas – gelas yang sudah cemepak kopi. 

Srupppptttt… glek glek… kebayang gak segernya??? Hehe..

Lagi enak – enak ngopi, muncul Andika dari semak teh, ngos – ngosan seperti habis di kejar maling #eh ternyata dia baru saja membeli beberapa camilan untuk sarapan (500M dari tempat camp ini ada warung warga). Wisssss…. tepak tok wis!! Seiring dengan bau makanan, para penghuni camp satu persatu mulai bangun dan kita pun kembali berdiskusi lagi sampai matahari terasa hangat menerpa kulit kami semua. Matahari sudah tinggi, kamipun memutuskan untuk bongkar tenda dan pulang kerumah kami masing – masing.

Savanapala
Kemanapun kamu pergi, jangan lupa jalan pulang – dari kiri ke kanan Margono, ferri, murdock, muklis, klipo, saya, untung, dinda, andika, yang duduk aji & yoga (mesra)

Hal – hal seperti inilah yang membuatku rindu, sejenak melupakan dering telpon dan barisan – barisan kode semacam surat untuk alien, bersantai bermalasan menikmati hidup & alam ciptaan Tuhan yang maha kuasa ini.

We Are SAVANAPALA! kapan kita ngopi lagi?

dian ariyanto

Kangen Pecel “Mbok Yem” Gunung Lawu

Teman – teman sekitar rumah berencana tracking ke lawu, ingin sekali rasanya untuk tracking lewat jalur utara yaitu jalur Ngendut. Tapi tidak terlalu memaksakan untuk lewat jalur Ngendut kalau tidak ada penunjuk jalan yang sudah berpengalaman melintasi jalur pendakian Ngendut. Berhubung penunjuk jalan ada kemungkinan tidak bisa ikut, kemungkinan besar kami akan tetap melanjutkan rencana pendakian namun lewat jalur lain yang lebih aman antara cemoro sewu / cemoro kandang / cetho.

Semoga saja cuaca lekas membaik, dan niat kami untuk menghadiri upacara bendera merah putih memperingati hari kemerdekaan Indonesia ke 71 ini dapat berjalan dengan lancar dan tanpa aral suatu apapun.

To be continue..

Dan akhirnya, acara ini gagal dilaksanakan karena alasan klasik :mrgreen: cuaca melemahkan kami. Ah sudahlah, masih ada tahun depan atau depannya lagi.. 🙁

dian ariyanto

Wifi Extender – Perangkat Mungil Tepat Guna

Wifi+ Salah satu perangkat mungil yang paling membantu saya kalau ingin kerja sambil nyantai di teras. Wifi extender namanya atau ada yang menyebutnya sebagai repeater wifi, perangkat ini bekerja untuk menangkap lalu kemudian menyebarkan kembali koneksi wifi kamu sehingga memiliki range (baca:jangkauan) yang lebih luas.

Sebuah router wifi (baca:alat untuk menyebarkan koneksi internet via wifi) biasanya hanya mampu menjangkau jarak sekitar 50Meter, dan akan semakin pendek jika terhalang oleh dinding tembok atau sejenisnya. Masalahnya, teras rumah saya yang suasananya asik banget buat nyantai ternyata tidak mendapat cukup sinyal wifi. Padahal, jaraknya hanya sekitar 10Meter dari router.. duh dek, ndak seru ini..

usb wifi+ extender
Repeater wifi atau Wifi extender mini dengan konektor USB

Hingga akhirnya pas lagi buka – buka online shop (kalau ndak salah pas nyari Orange PI) ketemulah sama perangkat mungil ini, Wifi+ labelnya. Langsung saja tanpa pikir panjang, jari telunjuk langsung klik kiri pada tombol add to cart kemudian bayar! Harganya kalau tidak salah sekitar $10 saja, atau sekitar Rp.130.000an (kalau rate dolar ke rupiah 13rb kikikik).

Update :

Eh, ternyata Xiaomi juga punya produk kayak beginian namanya “xiaomi wifi extender amplifier” kalo nggak salah.

Lanjut..

Hari – hari selanjutnya jadi ndak sabar untuk segera mbukak paketan.. hingga akhirnya telah sampailah pada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan paket kedepan pintu rumah. Kurirnya dengan senyum khas lalu menyodorkan kertas untuk ditanda tangani, oret – oret – oret…. bongkar!

Langsung baca manual book nya, ndilalah hanya terdapat bahasa cina… yes, untung aku raiso boso cino :mrgreen: mata saya hanya langsung tertuju pada sederet angka yang di sinyalir merupakan alamat IP (192.168.19.252) untuk mengatur Wifi Extender dengan label Wifi+ ini. Setelah colok ke powerbank (ndak dapet adaptor ya, jadi repeater ini bisa digunakan pakai adaptor carger HP ataupun powerbank karena menggunakan konektor USB male) lalu konek ke Wifi+ kemudian buka alamat IP yang tertera di manual book tadi via Chrome. Yak, semudah menghubungkan HP android ke jaringan wifi dan repeater siap digunakan :mrgreen:

repeater wifi murah
Uhuy… sinyal wifi penuh bro

Setelah tiga bulan pemakaian ternyata tidak ada kendala yang berarti, semoga saja awet.. Hehehe… Oiya, usb repeater wifi ini support dengan berbagai macam router lho, hanya saja tidak dapat menghubungkan ke jaringan wifi yang di sembunyikan (hidden SSID) gitu. Dalam kasus ini, router yang saya gunakan adalah Huawei HG553 dengan firmware OpenWrt, sudah dicoba juga di router Movistar ASL-26555 dengan firmware OpenWrt maupun firmware original dan berjalan normal. Sebelumnya saya menggunakan ASL26555 sebagai repeater, bahkan pernah juga oprek Huawei HG553 sebagai repeater, tapi karena sudah punya wifi+ ini akhirnya kedua router tersebut dikembalikan ke fungsi aslinya.

Piye? Masih kehilangan sinyal wifi saat nongkrong di closet? Hahaha…

hidup tanpa wifi